Sabtu, 21 Juni 2008

BENAR DAN SALAH TIDAK PENTING


Dikirim Islam Kaaffah pada 11 Juni, 2008 oleh islamreguler

ALLAH SWT tidak menilai atau memberi pahala berdasarkan sejauh mana kepastian akan kebenaran sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia. Sebagai contoh bahwa, jikalau pun suatu masalah yang sedang kita diskusikan dalam forum seperti ini nantinya akan menghasilkan sebuah kesimpulan yang sebenar benarnya misalnya, maka hal itu tidaklah menjadi jaminan bahwa apa yang kita yakini dan jalani kemudian akan dinilai benar pula oleh Allah. Apalagi sampai bisa menjamin bahwa amal perbuatan kita diterima dan kita mendapat pahala sorga kelak.

Manusia wajib meyakini kebenaran yang ada dalam Islam, akan tetapi tidak boleh mengakui kebenaran itu sebagai miliknya. Sebaliknya, setiap muslim justru harus mengakui kesalahan seluruh perbuatan yang dilakukannya bahkan mengakui kesesatan atas jalan yang dilaluinya di mata Allah. Bukti kesungguhan pengakuan tersesatnya seorang muslim selalu terus terbawa seperti halnya ketika mengerjakan sholat dengan panjatan do’a “ Ihdinasshiroothol mustaqiim “. Tidak cukup dengan hal itu, bahwa seseorang yang benar benar muslim akan selalu berdo’a dengan sikap perasaan berharap harap cemas atau yang disebut dalam AlQur’an dengan istilah “ roghoban wa roohinan “, Al Anbiyaa’-90, sekali lagi, karena mereka sadar bahwa kesesatan memang sedang ditimpakan kepada setiap manusia yang menjalani hidup dan Allah SWT hanya akan menolong serta memberi hidayah hanya kepada orang orang yang benar benar selalu berharap.

Yang membuat kita semua tidak habis pikir, apalagi kalau kita bicara kondisi riil, di jaman sekarang ini banyak sekali orang yang mengaku ahli “ Laa Ilaaha illAllah “ dan mengaku menjadi muslim yang taat, akan tetapi sepak terjang perbuatannya justru bertolak dengan apa yang harus mereka akui setiap harinya yaitu ketika mengerjakan sholat. Kebenaran selalu diakui dan diagung agungkan menjadi miliknya. Dengan pekikan yel yel “ Allaahu Akbar “ mereka dengan penuh percaya diri berani memasang wajah garang penuh amarah seolah olah kebenaran yang diakukannya telah mendapat rekomendasi dari Allah, kemudian entah sadar atau tidak mereka lupa dengan kesesatan yang harus mereka akui dan malah justru mengalamatkan kesesatan itu kepada orang lain. Sewajarnyalah jika kemudian ada orang bertanya “ selain mereka sendiri dan kelompoknya, adakah yang menjamin bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar benar telah diridhoi Allah “. Dan jika mereka menjawab dengan dalil dalil AlQuran atau Hadits misalnya, maka tidakkah AlQuran atau Hadist tersebut adalah ayat atau riwayat yang mereka pinjam dan mereka pahami hanya dengan pencernaan makna yang secara kebetulan saja sesuai dengan selera atau kesukaan mereka sendiri yang tidak luput pula dari kehilafan bahkan kesalahan.

Jika saja orang orang seperti ini adalah benar benar muslim, lalu dimanakah manifestasi Ihdinasshirothol Mustaqiim dan juga Roghoban wa Rohinan itu ada pada diri mereka.

Perlu diingat dan selalu diyakini bahwa qodrat manusia adalah “dho’if ”. Banyak sekali yang bersepakat bahwa hal yang dho’if tidak dapat dijadikan alat pengukur sebuah kebenaran. Saat memberi keterangan tentang kebenaran, Allah jelas jelas memasang benang merah dengan Mengatakan “ al haqqu min Robbika ………., al ayah.. “. Allah pun menghimbau agar jangan sekali kali kita manusia termasuk orang orang yang ragu dengan hal tersebut.

Korelasi antara dho’ifnya manusia dan kebenaran mutlaq yang hanya berasal dari Allah SWT seakan memberi isyrarat bahwa manusia memang ditaqdirkan tidak akan dapat menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga seperti yang sudah disinggung di atas, meski sepandai apapun manusia tetap harus meyakini dan tidak boleh ragu ragu bahwa di hadapan Allah manusia akan tetap selalu kurang, kalah serta salah dalam segala hal, bukannya malah sebaliknya yaitu merasa cukup dan merasa sudah benar apalagi sampai mengatas namakan Allah dan berani menyalahkan orang lain yang belum tentu salah di mata Allah SWT.

Kalo kita teringat, bahwa Ali bin Abi Tholib KW saja pernah kecele di hadapan Nabi karena setelah beliau dites melakukan sholat di hadapan Nabi, ternyata beliau tidak bisa mengerjakan sholat dengan benar benar khusu’ .Ini adalah bukti bahwa khusyu’ dan tidak khusyu’ atau benar dan tidak benar bukanlah kategori penilaian bagi ALLAH SWT, karena kendati sholatnya sahabat Ali KW tidak khusu’ pun tetap dianggap sah oleh Nabi.

Maka dari itu, janganlah sampai kita pernah tertipu oleh obsesi kita atas kebenaran suatu hal bahkan jikapun hal hal yang kita yakini benar tersebut telah nyata nyata tertulis dalam AlQur’an ataupun Hadits, karena apapun kebenaran yang kita yakini adalah hasil dari pemaknaan dan atau pemahaman akal kita yang diqodratkan “ dho’if oleh Allah SWT.

Kita hanya perlu yakin seyakin kemampuan diri dan menjadikan apa yang kita yakini sebagai pedoman diri sendiri. Kalaupun kemudian berbeda dengan kebenaran yang diyakini orang lain, maka kita pun boleh mengungkapkannya dan sebatas boleh mendiskusikannya. Tapi kalau sampai kita saling menyalahkan, maka alangkah na’ifnya diri kita karena sekali lagi mana yang benar dan mana yang salah tidaklah penting di mata Allah SWT. Allah Ta’aala hanya akan menilai sejauh mana para hambanya mau berusaha mencari kebenaran itu ada, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing masing. Allah menghukumi dosa dan membalas dengan siksa karena sebab adanya kesengajaan dari pelakunya. Dan Allah memberi balasan pahala berdasarkan sejauh mana kesungguhan niat pelakunya. Sekali lagi hanya karena dua hal tersebut yakni ” kesengajaan dan kesungguhan “, bukan karena benar atau salah. Dan sudah barang tentu hanya Allah sendiri pulalah yang Maha Tahu sejauh mana terdapat kesengajaan, sampai di mana adanya kesungguhan dan sebatas apa kemampuan yang dimiliki para hambaNya.

Laa yukallifulloohu nafsaan illaa wus’ahaa, lahaa maa kasabat wa alaihaa maakatasabat…., al ayah…

Kamis, 12 Juni 2008

PINDAH RUMAH

MOHON MAAF SEBESAR BESARNYA
BLOG INI HANYA TESTIMONI SEMENTARA
LEBIH JAUH TENTANG ISLAM REGULER
SILAHKAN PINARAK KE

http://islamreguler.wordpress.com

INSYA ALLAH KITA BISA BERSHILATURROHIM

Senin, 03 Maret 2008

THE ZYMBOOQUE

Keniscayaan sebuah predikat
akan menyeret seseorang ke dalam penjara kemunafikan.

!........................ percaya atau tidak.....................!

" kesuksesan adalah sebuah malapetaka,
sedangkan kegagalan adalah hidayah yang tak pernah kita sadari "